Jangan Asal Viral! Ini yang Harus Dipikirkan Sebelum Membuat Konten

Jangan Asal Viral! Ini yang Harus Dipikirkan Sebelum Membuat Konten

Posted by Gado Creative on 27 August 2026

Siapa yang tidak ingin kontennya viral?

Jumlah views mencapai ratusan ribu, likes terus bertambah, komentar ramai, bahkan akun mendapatkan banyak followers baru. Sekilas, viral memang terlihat seperti pencapaian besar bagi sebuah brand.

Tapi ada satu pertanyaan yang sering terlupakan:

“Setelah viral, lalu apa?”

Viral bukan selalu berarti berhasil. Untuk sebuah brand, konten yang mendapatkan banyak views tetapi tidak memberikan dampak pada awareness, engagement, atau bisnis bisa saja hanya menjadi angka tanpa makna.

Karena itu, sebelum membuat konten, jangan hanya bertanya “Gimana caranya biar viral?”

Mulailah bertanya:

“Apa tujuan konten ini untuk brand?”

Berikut beberapa hal yang perlu dipikirkan sebelum membuat konten.

1. Tentukan Tujuan Konten

Setiap konten seharusnya memiliki tujuan.

Apakah ingin meningkatkan brand awareness? Mendapatkan engagement? Mengedukasi audiens? Membangun kepercayaan? Atau mendorong penjualan?

Tujuan yang berbeda membutuhkan pendekatan konten yang berbeda pula.

Contohnya:

  1. Awareness: konten yang mudah dikenali dan shareable.
  2. Engagement: konten interaktif seperti polling, pertanyaan, atau opini.
  3. Education: konten informatif yang menjawab masalah audiens.
  4. Conversion: konten yang menunjukkan manfaat produk dan mengarahkan audiens melakukan tindakan.

Jadi, jangan sampai konten mendapatkan 1 juta views tetapi kamu sendiri tidak tahu kenapa konten tersebut dibuat.

2. Kenali Siapa Target Audiensnya

Konten yang viral belum tentu viral di kalangan orang yang tepat.

Bayangkan sebuah brand skincare mendapatkan jutaan views karena membuat konten komedi yang sangat relatable. Banyak orang menonton dan membagikannya, tetapi hampir tidak ada yang tertarik dengan produknya.

Apakah konten tersebut gagal?

Belum tentu.

Namun, jika tujuan utamanya adalah meningkatkan penjualan produk skincare, maka reach yang besar tidak otomatis berarti hasil yang besar.

Sebelum membuat konten, pahami:

  1. Siapa audiensnya?
  2. Apa yang mereka butuhkan?
  3. Apa masalah mereka?
  4. Konten seperti apa yang mereka konsumsi?
  5. Bahasa seperti apa yang mereka gunakan?
  6. Platform apa yang paling sering mereka gunakan?

Semakin kamu memahami audiens, semakin besar kemungkinan konten terasa relevan, bukan sekadar ramai.

3. Jangan Sampai Konten Viral Tidak Nyambung dengan Brand

Ini salah satu jebakan terbesar dalam mengejar viralitas.

Brand melihat sebuah tren sedang ramai, lalu langsung ikut membuat konten yang sama.

Masalahnya?

Tidak semua tren cocok untuk semua brand.

Brand fashion, restoran, fintech, rumah sakit, dan creative agency tentu memiliki karakter komunikasi yang berbeda.

Mengikuti tren boleh. Tetapi pastikan tren tersebut masih bisa dikaitkan dengan:

Brand personality + audience + message.

Kalau tidak, audiens mungkin mengingat kontennya tetapi tidak mengingat brand-nya.

Padahal tujuan utama content marketing bukan hanya membuat orang berkata:

“Wah, kontennya lucu!”

Tetapi juga:

“Oh, ini brand X.”

4. Utamakan Relevansi daripada Sekadar Viral

Konten yang relevan memiliki umur yang lebih panjang.

Ketika sebuah konten mampu menjawab kebutuhan, keresahan, atau pertanyaan audiens, konten tersebut berpotensi terus dicari dan dibagikan meskipun tidak langsung viral.

Misalnya, daripada hanya membuat konten mengikuti tren, brand bisa membuat:

  1. Tips yang benar-benar dibutuhkan audiens.
  2. Tutorial penggunaan produk.
  3. Jawaban atas pertanyaan pelanggan.
  4. Insight industri.
  5. Behind the scenes.
  6. Studi kasus.
  7. Storytelling tentang brand.

Viral itu bonus. Relevansi adalah fondasi.

5. Pastikan Ada Pesan yang Ingin Disampaikan

Konten yang menarik tetap membutuhkan pesan yang jelas.

Jangan membuat audiens selesai menonton lalu bertanya:

“Tadi sebenarnya ngomongin apa?”

Sebelum produksi, coba rangkum pesan utama konten dalam satu kalimat.

Contoh:

“Konten ini ingin menunjukkan bahwa produk kami membantu pekerja kantoran menghemat waktu saat sarapan.”

Jika pesan tersebut sudah jelas, proses pembuatan visual, copywriting, hingga CTA akan jauh lebih mudah.

6. Pikirkan CTA yang Tepat

Kalau konten sudah berhasil mendapatkan perhatian, apa yang ingin audiens lakukan setelah melihatnya?

Inilah fungsi Call to Action (CTA).

CTA tidak harus selalu:

“Beli sekarang!”

Tergantung tujuan konten, CTA bisa berupa:

  1. “Save untuk nanti.”
  2. “Share ke temanmu.”
  3. “Coba tips ini.”
  4. “Follow untuk tips lainnya.”
  5. “Cek produknya di bio.”
  6. “Kirim DM untuk konsultasi.”

CTA membantu mengubah perhatian menjadi action.

Karena views tanpa tindakan belum tentu memberikan dampak bagi brand.

7. Jangan Lupakan Identitas Brand

Konten boleh mengikuti tren, tetapi jangan sampai brand kehilangan identitas.

Gunakan elemen yang membuat audiens tetap mengenali brand kamu, seperti:

  1. Tone of voice.
  2. Warna brand.
  3. Gaya visual.
  4. Cara storytelling.
  5. Karakter komunikasi.
  6. Nilai yang ingin ditonjolkan.

Dengan begitu, ketika konten viral, yang ikut naik bukan hanya views, tetapi juga brand awareness.

8. Ukur Lebih dari Sekadar Views

Views memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator keberhasilan.

Setelah konten dipublikasikan, lihat metrik yang sesuai dengan tujuan.

Beberapa metrik yang bisa diperhatikan:

Awareness: reach, impressions, views.

Engagement: likes, comments, shares, saves.

Consideration: profile visits, website visits, DM, klik link.

Conversion: leads, transaksi, revenue.

Dari sini kamu bisa mengetahui apakah konten benar-benar memberikan dampak atau hanya mendapatkan angka views yang besar.

Jadi, Haruskah Brand Mengejar Viral?

Boleh. Tapi jangan menjadikan viral sebagai satu-satunya tujuan.

Konten yang ideal adalah konten yang mampu menggabungkan:

Creative Idea + Audience Insight + Brand Message + Strategic Goal.

Ketika keempatnya berjalan bersama, peluang konten untuk memberikan dampak akan jauh lebih besar.

Karena pada akhirnya, brand tidak membutuhkan konten yang hanya ramai selama beberapa hari.

Brand membutuhkan konten yang bisa dikenali, dipercaya, diingat, dan mendorong audiens untuk mengambil tindakan.

Jadi, sebelum menekan tombol “Publish”, jangan cuma bertanya:

“Apakah konten ini bisa viral?”

Coba tanyakan juga:

“Apakah konten ini relevan?”

“Apakah konten ini merepresentasikan brand?”

“Dan yang paling penting, apakah konten ini punya tujuan?”

Karena viral itu menyenangkan, tetapi strategi adalah yang membuatnya berarti.

KONSULTASI GRATIS

Punya ide proyek atau butuh arah kreatif yang lebih terukur?

Tim kami siap membantu membedah tantangan brand Anda, menyusun strategi visual yang tepat, dan mengeksekusinya secara konsisten.

Diskusi awal tanpa komitmen. Respons biasanya dalam 1 hari kerja.