Marketplace vs Social Commerce: Siapa yang Lebih Dipercaya Sekarang?

Belanja online sekarang nggak sesederhana klik produk, baca harga, lalu checkout. Para calon pembeli lebih selektif dalam memilih. Perlu scroll konten, nonton live, baca komentar, ngecek siapa yang jual, hingga lihat review dan rating. 

Platform E-Marketplace memang masih jadi tempat paling aman secara sistem. Pembayaran rapi, ada fitur komplain, ada proteksi pembeli. Semua terasa tertata. Tapi di balik sistem yang rapi itu, ada jarak yang nggak bisa diisi. Banyak toko terlihat profesional, tapi dingin. Foto produk bagus, deskripsi lengkap, tapi nggak ada rasa kenal. Pembeli sering nggak tahu siapa orang di balik toko itu. Percaya, iya. Tapi percayanya sebatas “aman buat transaksi”, bukan “yakin sama brand”.

Di sisi lain, social commerce hadir dengan cara yang jauh lebih personal. Lewat Instagram, TikTok, atau live streaming, pembeli bisa lihat langsung siapa yang jual. Cara ngomongnya, cara jawab pertanyaan, cara dia jelasin produk tanpa filter berlebihan. Bahkan ketika penjual terlihat capek, salah sebut, atau jujur bilang produknya kurang cocok, justru di situ rasa percaya muncul. Ada manusia di sana, bukan sekadar etalase digital.

Gen Z khususnya lebih gampang percaya sama orang dibanding platform. Kita ngerasa lebih yakin beli dari akun yang konsisten muncul, ceritanya nyambung, dan nggak cuma nongol pas promo. Walaupun proses belinya kadang lebih ribet, tapi banyak yang tetap memilih social commerce karena terasa lebih nyata dan lebih jujur.

Yang menarik, kepercayaan sekarang nggak lahir di momen checkout. Trust terbentuk jauh sebelum itu. Dari konten yang ditonton berulang kali, dari live yang pernah disimak walau belum beli, dari cara brand merespons komentar dan komplain. Marketplace akhirnya cuma jadi tempat bayar. Keputusan belinya sudah terjadi sebelumnya.

Jadi kalau ditanya siapa yang lebih dipercaya sekarang, jawabannya bukan marketplace atau social commerce. Yang paling dipercaya adalah yang paling manusiawi. Marketplace unggul di sistem, social commerce unggul di kedekatan. 

Brand yang cuma mengandalkan satu sisi akan cepat kelelahan. Yang bertahan adalah brand yang mau membangun kepercayaan lewat cerita, kehadiran, dan kejujuran, lalu mempermudah transaksi lewat sistem yang rapi.

Di tengah semua perubahan ini, satu hal jadi makin jelas: jualan online hari ini nggak bisa lagi jalan setengah-setengah. Punya toko di marketplace tapi tanpa konten yang hidup bakal tenggelam. Aktif di social commerce tapi tanpa sistem yang rapi juga bikin capek sendiri.

Di sinilah peran partner yang paham dua dunia jadi penting. Gado Creative hadir untuk bantu brand dan UMKM bukan cuma “ada” di marketplace dan social commerce, tapi dipercaya.

 Mulai dari kelola toko di e-marketplace, optimasi konten, live streaming yang terasa manusiawi, sampai strategi social commerce yang konsisten dan relevan dengan audiens hari ini. Karena trust nggak bisa dibangun dalam semalam, tapi bisa dirancang dengan strategi yang tepat.

Kalau kamu ingin jualan online tanpa harus kebingungan milih jalur, tanpa kelelahan ngurus semuanya sendirian, dan tanpa kehilangan sisi manusia dari brand kamu, Gado Creative siap jadi partner tumbuhnya.

Selasa, 3 Februari 2026 08:00 WIB

5 Pengunjung

Bagikan :

Top Insight

Strategi "Level Up" Bisni...
Ramadan Segera Tiba: Inti...
Tren TikTok 2026: Jangan...
Aturan Baru Shopee 2026:...
Strategi Copywriting Rama...