Mengapa Kita Lebih Suka Belanja Lewat Influencer daripada Cari Sendiri? Ini Rahasianya

Beberapa tahun lalu, perjalanan belanja kita di dunia digital dimulai dengan cara yang sangat mekanis: buka aplikasi, ketik nama barang di kolom pencarian, filter harga termurah, lalu bayar. Namun, jika Anda membuka aplikasi marketplace hari ini, Anda akan disambut oleh pemandangan yang jauh berbeda. 

Alih-alih deretan foto produk yang statis, kita akan menemukan wajah-wajah familiar yang sedang mencoba baju, mengulas tekstur skincare, atau mendemonstrasikan kecanggihan alat dapur secara langsung.

Kita telah resmi memasuki Era Kreator, sebuah titik balik di mana keputusan belanja tidak lagi dipicu oleh kebutuhan mendesak, melainkan oleh inspirasi dan koneksi manusia.

Di era ini, kita sering menemukan produk terbaik justru saat tidak sedang mencarinya. Seorang ibu rumah tangga yang sedang menonton video tips menata rumah mungkin berakhir membeli rak organisator karena melihat betapa praktisnya alat tersebut di tangan seorang kreator favoritnya. 

Di sini, influencer berperan sebagai kurator yang menyaring jutaan produk di marketplace menjadi pilihan-pilihan yang relevan bagi audiensnya.

Kekuatan Kepercayaan di Tengah Banjir Informasi

Masalah utama belanja online adalah ketidakpastian. Apakah ukurannya pas? Apakah warnanya sesuai foto? Di sinilah influencer masuk sebagai jembatan kepercayaan. Melalui konten ulasan jujur (honest review) dan demonstrasi live, mereka memberikan validasi visual yang tidak bisa diberikan oleh foto katalog secanggih apa pun.

Inilah yang membuat konversi penjualan melalui jalur kreator jauh lebih tinggi dibandingkan iklan konvensional. Kepercayaan telah menjadi mata uang baru yang lebih berharga daripada diskon besar-besaran.

Tak hanya itu, marketplace kini juga telah bertransformasi menjadi panggung hiburan raksasa atau yang sering disebut sebagai Shoppertainment. Fitur Live Streaming menjadi ujung tombak fenomena ini.

Di sana, batas antara hiburan dan transaksi menjadi kabur. Penonton bisa tertawa menonton aksi lucu seorang kreator, berinteraksi di kolom komentar, dan dalam satu klik, barang yang sedang dipamerkan berpindah ke keranjang belanja.

Interaksi real-time ini menciptakan urgensi. Kata-kata seperti "Sisa dua slot lagi, Kak!" atau "Hanya berlaku selama live ini!" menciptakan adrenalin belanja yang tidak ditemukan pada metode belanja tradisional.

Era Kreator membuktikan bahwa di balik teknologi algoritma yang dingin, manusia tetap mencari koneksi personal. Marketplace masa depan bukan lagi soal siapa yang punya barang paling banyak, tapi siapa yang bisa menyajikan cerita paling menarik di balik produk tersebut.

Sebagai konsumen, kita kini memiliki kemudahan untuk menemukan produk terbaik lewat tangan-tangan kreatif. Namun, di tengah kemudahan ini, kebijaksanaan dalam berbelanja tetap menjadi kunci agar kita tidak terjebak dalam konsumerisme yang impulsif.

Rabu, 11 Februari 2026 06:17 WIB

10 Pengunjung

Bagikan :

Top Insight

Strategi "Level Up" Bisni...
Ramadan Segera Tiba: Inti...
Tren TikTok 2026: Jangan...
Aturan Baru Shopee 2026:...
Strategi Copywriting Rama...