Bukan Sekadar Press Release: Wajah Baru Public Relations di Era Social Commerce
Posted by Gado Creative on 23 June 2026
Kalau kamu berpikir profesi Public Relations (PR) itu cuma sebatas duduk di depan laptop, menulis press release, lalu mengirimkannya ke wartawan agar masuk berita, kamu perlu update lagi. Di era social commerce—di mana media sosial dan e-commerce melebur jadi satu seperti di TikTok Shop, Shopee Live, atau Instagram Shopping—wajah PR sudah berubah drastis.
Saat ini, audiens tidak lagi hanya membaca berita di koran atau portal berita online sebelum memutuskan membeli sesuatu. Mereka melihat review di TikTok, menonton live streaming kreator, dan membaca kolom komentar. Di sinilah peran PR berevolusi.
Berikut adalah wajah baru strategi PR yang wajib kamu pahami agar brand-mu tetap relevan di era social commerce.
1. Dari Media Relations ke KOL & Influencer Relations
Dulu, senjata utama seorang PR adalah kedekatannya dengan jurnalis atau editor media. Sekarang? Kamu juga harus jago membangun hubungan dengan KOL (Key Opinion Leaders), influencer, bahkan micro-influencer dan affiliator.
- Bukan sekadar bayar endorse: PR modern harus bisa mengedukasi KOL agar mereka memahami value produkmu, sehingga review yang mereka berikan di video atau live streaming terasa natural, tidak kaku seperti sedang membaca skrip.
- Kolaborasi jangka panjang: Membangun chemistry dengan kreator yang memang punya audiens yang cocok dengan brand-mu jauh lebih efektif daripada sekadar sebar produk ke sembarang influencer.
2. Manajemen Krisis dalam Hitungan Menit (Bukan Hari)
Di era tradisional, kalau ada keluhan pelanggan, PR punya waktu beberapa jam atau bahkan berhari-hari untuk meracik surat klarifikasi resmi. Di era social commerce, satu video komplain pelanggan yang masuk FYP (For You Page) TikTok bisa menghancurkan reputasi brand dalam hitungan menit.
- Social Listening: Kamu harus selalu standby memantau percakapan audiens di media sosial.
- Respon cepat dan empatik: Klarifikasi kini tidak harus selalu lewat press release formal berstempel. Terkadang, video balasan (VT) dari pemilik brand atau tim PR yang meminta maaf secara tulus jauh lebih dihargai oleh netizen.
3. Live Streaming sebagai Panggung PR Baru
Siapa bilang host live streaming cuma urusan tim sales atau marketing? Apa yang diucapkan host selama berjam-jam live sangat berdampak pada citra brand.
- Menjaga Brand Voice: PR berperan menyusun guidelines atau batasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan oleh host saat live jualan, agar tetap sejalan dengan citra perusahaan.
- Membangun Komunitas: Live streaming adalah momen interaksi dua arah secara real-time. PR menggunakan momen ini untuk menjawab pertanyaan, mendengarkan masukan langsung dari konsumen, dan membangun kedekatan emosional, bukan sekadar mengejar omset harian.
4. Mendorong User-Generated Content (UGC) sebagai Bukti Sosial
Di era social commerce, pembeli lebih percaya pada sesama pembeli daripada klaim dari brand itu sendiri. Tugas PR kini adalah memikirkan bagaimana caranya agar pelanggan mau bercerita hal baik tentang produkmu secara sukarela.
- Menciptakan experience: Dari mulai desain packaging yang unboxing-able, sampai kartu ucapan personal di dalam paket pengiriman. Hal-hal kecil ini memancing konsumen untuk merekam dan membagikannya ke media sosial mereka.
- Konsumen adalah Agen PR: Ketika pelanggan puas dan membuat konten UGC (User-Generated Content), mereka secara tidak langsung sedang menjalankan fungsi PR untuk brand kamu.
Peran Public Relations tidak mati, melainkan beradaptasi. Press release memang masih penting untuk menjaga hubungan dengan media formal atau investor. Namun, jika kamu ingin memenangkan hati konsumen langsung di era social commerce, kamu harus turun gelanggang.
Kamu harus siap berinteraksi langsung dengan kreator konten, merespon tren dengan cepat, dan menjadikan setiap titik interaksi di media sosial sebagai panggung untuk membangun citra baik brand-mu. Sudah siap mengubah strategi PR kamu hari ini?